Hindari Minum Kopi Dicampur Alkohol

4 Jul

MINUM kopi sudah menjadi tradisi dan kebiasaan sebagian masyarakat kita. Namun,  tahukah Anda bahwa mengkonsumsi kopi secara berlebihan bisa menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesehatan.   Akan tetapi, meski demikian belum ada larangan khusus  untuk tidak minum kopi kepada setiap orang.  Berikut ada tujuh tips sehat minum kopi yang  patut Anda perhatikan.
1. Coffee Mix
Tahukah  Anda,  bahwa meminum campuran kopi dengan alkohol kurang baik terhadap kesehatan diri Anda. Terutama bagi orang yang memiliki gejala gangguan hati. Selain itu, campuran kopi dengan cream juga sebaiknya dihindari untuk mengurangi kalori yang berlebih. Bagi yang sedang mengkonsumsi obat, sebaiknya menghindari minum kopi karena caffeine dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat. Atau sebaiknya  konsultasikan ke dokter.
Hal yang paling penting diwaspadai adalah sekitar 5 milligram kalsium dalam tubuh Anda akan hilang manakala setiap 6 ons kopi masuk dalam tubuh Anda.  Namun kehilangan kalsium ini dapat diatasi dengan menambahkan 2 sendok susu atau membuat espresso latte. Sejauh ini, banyak yang beranggapan teman terbaik kopi adalah rokok. Eits, jangan salah. Seorang peminum kopi sejati tidak merokok! Justru, rokok dapat mengurangi nikmatnya ngopi.
2. Kenali Kandungan Caffeine
Setelah mengetahui dosis dan respon tubuh, ada baiknya kita mengetahui kandungan caffeine dalam produk-produk yang sering kita konsumsi. Agar jangan sampai dosis kopi yang dianjurkan sudah tercapai, namun kita masih mengkonsumsi produk-produk lain yang mengandung caffeine sehingga merasakan efek buruk kopi. Beberapa produk lain yang perlu diperhatikan kandungan caffeine seperti : softdrink, permen kopi, teh, coklat, obat sakit kepala.
Cara pengolahan (roasting dan brewing) juga berpengaruh terhadap kandungan caffeine dalam kopi. Sebagai contoh, sebuah penelitian menunjukkan, secangkir kopi di Starbucks mengandung rata-rata 259 mg caffeine dibandingkan dengan kopi dengan jenis dan ukuran cangkir yang sama di Dunkin Donuts yang hanya mengandung 149 mg caffeine.
Dari penelitian lain, kopi decaf (kopi tanpa caffeine) baik untuk mereka yang mengalami obesitas karena dapat meningkatkan HDL (kolesterol “baik”) sekitar 50%. Sedangkan pada mereka yang tidak mengalami obesitas justru dapat menurunkan kolesterol HDL ini yang dapat meningkatkan resiko penyakit jantung.
3. Waspadai Dosis Kopi
Memang belum ada ukuran yang pasti untuk dosis kopi yang boleh dikonsumsi orang. Namun kebanyakan penelitian mengungkapkan bahwa minum 300 mg caffeine (sekitar 1 sampai 3 cangkir kopi sehari) tidak memberikan efek negative pada kebanyakan orang sehat.

4. Kenali Sinyal Bahaya Kopi
Ketika mereguk kopi memang terasa nikmat. Tetapi sering kali diikuti dengan sejuta rasa bersalah. Untuk itu, kenali sinyal bahaya kopi sehingga kita tahu kapan harus berhenti minum kopi. Sinyal bahaya itu antara lain: gelisah, jantung berdebar, gangguan tidur dan gangguan mood (misl: cepat marah). Seorang peminum kopi yang menghentikan kebiasaan minum kopinya dapat mengalami “caffeine withdrawal” yang ditandai oleh sakit kepala berdenyut. Tetapi gejala ini akan hilang setelah 24 hingga 48 jam atau mendapat caffeine dosis baru.

5. Dengarkan Respon Tubuh
Setiap orang memiliki batasan sendiri mengenai konsumsi caffeine. Kebanyakan orang dapat mengkonsumsi 2 cangkir kopi sehari tanpa masalah. Namun ada pula yang mengalami efek buruknya dengan jumlah konsumsi kopi yang sama. Ada yang bercerita setelah minum secangkir kopi menjadi tak dapat tidur sepanjang malam, sebaliknya ada yang tertidur pulas setelah minum kopi. So, cara terbaik adalah dengarkan respon tubuh sendiri!
6. Kelompok Anti-Kopi
Kelompok berikut disarankan untuk menghindari kopi: wanita hamil, anak-anak, orang tua, orang dengan penyakit jantung dan orang memiliki perubahan tekanan pembuluh darah (mis: hipertensi). Nah, kalau sudah termasuk kelompok ini, lupakan kopi!

7. Check Up
Lakukan pemeriksaan berkala terhadap kesehatan, dalam hal ini adalah ukuran tekanan darah. Semakin dini hipertensi diketahui, akan semakin baik untuk penatalaksanaan selanjutnya. JNC VII mengklasifikasikan hipertensi sebagai berikut :
Klasifikasi    Sistolik (mmHg)        Diastolik (mmHg)
Normal    < 120    Dan    <80
Pre Hipertensi    120-139    Atau    80-89
Hipertensi stage 1    140-159    Atau    90-99
Hipertensi stage 2    > 160    Atau    > 100

Baca juga : Syarat makanan disebut makanan sehat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: